Tips Nutrisi | NUTRISI | 2 weeks ago
Topping Keju Pada Makanan Kekinian, Sehatkah?
Lelehan keju mozzarella di atas ayam geprek, keju cheddar parut di atas satu cup jagung manis dan ragam makanan hits lainnya dengan topping keju saat ini banyak menghiasi menu café dan resto kekinian yang menyajikan hidangan unik dan eksperimental. Sehat atau malah tak bermanfaat?
17 November 2019 15:49
Text by Astri Suciati

Keju. Makanan olahan dari susu yang identik dengan tekstur berlubang seperti di film kartun Tom & Jerry ini memang bukan bahan makanan yang kerap dikonsumsi mayoritas penduduk Indonesia lazimnya di Amerika atau Eropa sana. Namun belakangan ini keju menjadi primadona pelengkap kuliner trendy yang kian menjamur di Indonesia. 

Memadukan keju dengan makanan seperti bakso, martabak telur, nasi goreng, ayam geprek, jagung manis, salad dan kreasi minuman ala café lainnya memang terkesan nyeleneh dan awalnya mungkin yang terbayang adalah rasanya bakal aneh dan enek. Tapi ternyata inovasi ini justru digemari oleh para penikmat kuliner karena menambah sensasi rasa gurih dan menyenangkan saat di mulut.

Campuran keju dengan comfort food khas Indonesia yang memanjakan lidah ini mungkin membuat beberapa kalangan mempertanyakan kesehatan dan kebaikan nutrisinya. Apakah dengan demikian menambahkan nilai gizi atau justru merusaknya? Kondisi seperti apa yang membuat seseorang sebaiknya menghindari konsumsi keju? Dan banyak lagi keraguan lainnya.

Mochammad Rizal, Ahli Gizi dan Sport Nutritionist dari KONI Jawa Timur membantu menjawab pertanyaan tersebut. Menurutnya, menambahkan keju sebagai topping makanan akan menambah zat gizi. Karena keju adalah salah satu makanan olahan dari susu, yang tinggi zat gizi terutama protein, kalsium, dan vitamin D sehingga penambahannya dapat menambah asupan zat gizi tersebut.

Protein dan lemak dalam keju

Lalu, mana yang lebih tinggi kandungannya dalam keju, protein atau lemak? “Tergantung jenis kejunya. Pada umumnya susu sebanyak 250 ml mengandung sekitar 7 g lemak, 6 g protein, dan 13 g karbohidrat. Keju pun demikian, pada umumnya kandungan lemak dan proteinnya hampir setara. Meskipun lemaknya setara, namun lemaknya terdiri dari lemak jenuh dan tak jenuh yang dibutuhkan oleh tubuh. Tinggal diatur saja porsinya. Kalau mau yang lebih rendah lemak juga bisa dengan memilih keju yang low fat, seperti kita memilih susu yang rendah lemak juga,” tambahnya.

Siapa saja yang tidak bisa mengonsumsi keju?

Bicara kondisi tertentu yang membuat seseorang harus menghindari konsumsi keju, Rizal menjelaskan bahwa ada 3 kondisi yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Alergi.
  2. Tidak menyukai keju.
  3. Kondisi khusus seperti lactose intolerance yang harus menghindari produk susu dan olahannya yang mengandung laktosa. Namun demikian, sebenarnya karena keju adalah produk fermentasi sehingga beberapa orang yang lactose intolerance tetap bisa mengonsumsi keju. Sehingga hal ini kembali lagj ke kondisi masing-masing individu.

Bagaimana dengan wanita hamil?

Ada yang bilang bahwa wanita hamil hanya boleh mengonsumsi keju jenis tertentu. Benarkah? “Tidak benar. Keju tetap boleh dikonsumsi. Kebutuhan protein, kalsium, dan vitamin D pada ibu hamil akan meningkat sehingga konsumsi keju dapat membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Kecuali ibu hamil tersebut masuk kategori kondisi khusus seperti yang sudah disebutkan sebelumnya,” ujarnya.

Kalsium pada susu vs keju

Kalau Anda termasuk yang tidak suka susu tetapi tidak ada masalah dengan keju, jangan khawatir dengan asupan kalsium Anda, karena Rizal menegaskan bahwa dengan mengonsumsi keju bisa menggantikan peran susu sebagai sumber kalsium. “Kandungan kalsium pada keju sama dengan susu, karena keju merupakan bahan pangan olahan susu. Bahkan beberapa diantaranya sudah difortifikasi macam-macam misalkan kalsium dan vitamin D,” pungkasnya.

Jadi tak perlu ragu lagi menikmati hidangan kekinian yang mengandung keju jika Anda doyan bereksperimen mencoba menu-menu baru saat kulineran. Nutrisi tetap terjaga, lidah dan perut pun bahagia!

---

Profil narasumber Mochammad Rizal, S.Gz bisa dibaca di sini