Reti Ragil: Si Putri Malu Yang Tak Lagi Ragu Menaklukkan Bidikan Lensa

Reti Ragil: Si Putri Malu Yang Tak Lagi Ragu Menaklukkan Bidikan Lensa

Reti Ragil, model bertubuh tinggi semampai yang sudah malang-melintang di dunia permodelan Indonesia berbagi kisah mengenai awal karir dan kehidupannya di balik panggung.

Model manis berwajah asli Indonesia ini mungkin sering Anda lihat di beberapa panggung runway dan juga di sampul media cetak ternama di tanah air. Ya, dialah Reti Ragil Riani. Dengan tinggi 179 cm dan berat 54 kg, postur jangkungnya anggun melenggang dalam balutan busana rancangan para desainer kondang, pun ketika beraksi luwes di depan kamera.

Siapa sangka, dengan kiprahnya di dunia modelling hingga kini, dulu ia adalah seorang yang tidak pede karena tingginya yang di atas rata-rata. Berbekal pendidikan di sekolah modelling, lambat laun wanita kelahiran 29 tahun lalu ini mulai mengembangkan sayapnya di dunia yang membuatnya jatuh hati ini hingga dikenal di kalangan penikmat mode. Sejumlah prestasi dan pertunjukan bergengsi yang pernah diikutinya antara lain Campaign Body Shop 2016, Model of the year 2019 of Beauty Fest Asia, Icon Jakarta Fashion Festival 2013, Campaign Blueprint Singapura Fashion Festival 2015, dan menjadi model video clip untuk lagu “Jangan Cintai Aku Apa Adanya” yang dinyanyikan oleh Tulus.

Penyuka pasta dan air putih yang hobi kulineran ini membagikan cerita tentang awal karirnya dan serba-serbi di dunia model serta kebahagiaannya sebagai ibu dari putri kecilnya Gendis.

“Keep your eyes on the stars and your feet on the ground”

Bisa diceritakan sejak kapan dan awal mula terjun ke dunia modeling?

Aku mulai modeling akhir 2008. Awalnya aku ikut sekolah modeling untuk menambah kepercayaan diri aku karena aku pemalu dan postur tubuhku bungkuk, lalu setelah ikut kelas modeling langsung ditawarin fashion show dan akhirnya jatuh hati sama dunia permodelan ini

Lalu bagaimana mengawali karir internasional?

Awalnya aku di-chat di Facebook oleh agency Singapura, Upfront Models. Mereka mau ke Jakarta untuk casting aku. Awalnya mereka sempat aku tolak sampai 2 tahun karena aku sempat takut untuk tinggal di sana dan aku juga masih kuliah. Tapi setelah tahun ketiga mereka masih nawarin aku untuk ke sana lagi, akhirnya aku ambil kesempatan itu dan stay di Singapura selama 3 bulan untuk mengikuti Fashion Week dan photoshoot di sana. Lalu akhirnya suka bolak-balik Singapura untuk direct booking kerjaan lainnya, dan sempat beberapa kali direct booking ke Malaysia untuk melakukan fashion show Chanel di sana.

Bagaimana rasanya saat tampil untuk pertama kalinya di atas runway? Ada momen tak terlupakan?

Pertama kali aku show aku langsung disuruh pakai sepatu heels 15 cm dari Priyo Oktaviano. Padahal sebelumnya aku gak pernah pakai heels sama sekali! Jadi rasanya deg-degan banget! Itu gak akan terlupakan sama aku.

Dari sekian sesi pemotretan, mana yang paling menarik dan seru? 

Aku mendapatkan kesempatan buat foto untuk bukunya Biyan. Menarik banget karena dari awal aku melalui proses casting sama model lainnya, terus pas tau aku terpilih deg-degan plus happy banget dan di-castingnya langsung sama Marc Ascoli dan Stefan Khoo.

Dan itu project rahasia, fotonya pun ada di beberapa kota jadi pas aku foto semua benar-benar rahasia banget. Lalu nunggu proses jadi bukunya juga lama, hampir 1 tahun. Jadi selama 1 tahun gak ada yang boleh membocorkan foto itu, jadi excited banget pas bukunya keluar. Lebih happy lagi pas tau ternyata foto aku terpilih jadi cover bukunya, terharu banget.

Saat di panggung fashion show dan photo shoot, seorang model kelihatannya eksklusif, high class dan ‘untouchable’. Menurut kamu apa sisi lain seorang model yang orang tidak tahu?

Kalau model itu adalah profesi dan model sendiri sama saja seperti semua orang lainnya. Model selalu dicap glamor padahal itu hanya di atas panggung saja. Model juga manusia biasa. Kita perlu makan, sosialisasi, bisa naik Gojek dan perlu dihargai seperti profesi lainnya. Juga kalau lagi kumpul sama teman-teman kita seperti manusia lain pada umumnya, bisa heboh dan santai. Apa yang dilihat orang di stage bisa 180 derajat sama yang kita lakukan di backstage.

Bagaimana seorang Reti Ragil merawat tubuh seperti rambut, wajah atau kulit?

Untuk kulit badan aku rajin pakai almond oil setiap hari dan aku suka melakukan luluran di salon sebelum fashion week berlangsung. Untuk wajah, aku 2 bulan sekali ke dokter muka melakukan treatment facial dan masker vitamin agar mengangkat sel-sel muka yang kotor. Di saat senggang aku juga suka mengoleskan madu dan lemon di muka pada malam hari dan yang terpenting minum air putih yang banyak.

Bagaimana dengan rutinitas kebugaran untuk menjaga bentuk tubuh? Olahraga apa yang kamu lakukan dan frekuensinya?

Aku dari kecil selalu dibiasakan sama Mamaku setiap pagi selalu minum jus buah sebelum berangkat beraktivitas, keterusan sampai sekarang. Jusnya selalu mix semua buah dan sayur. Biasanya abis itu selalu aku sisakan 1 sendok makan lalu aku basuh di mukaku jadi masker, lalu bilas. Itu kulakukan hampir tiap hari. Kalau olahraga dulu sebelum punya anak aku suka lari di GBK, tapi sekarang lebih sering bersepeda statis di rumah aja seminggu 3 kali.

Gaya berpakaian kamu sehari-hari seperti apa sih? Apa saja must have items yang ada di lemari kamu?

Aku mendeskripsikan gaya aku effortless dan casual. Hal yang wajib ada di lemari itu kemeja putih, kemeja hitam dan wide leg jeans.

Setelah punya anak, apa perbedaan yang kamu rasakan baik dalam pekerjaan maupun aspek lainnya? Pengen nggak si kecil mengikuti jejakmu sebagai model kelak?

Perbedaannya, sekarang kalau setiap pulang kerja selalu ada yang nungguin aku dan setiap aku buka pintu selalu ada yang teriak-teriak happy manggil “ibu pulang” seketika capek pasti hilang! Dan kalau sekarang karena udah punya anak, jadi aku harus pintar-pintar membagi waktu antara jadwal pekerjaan, mengikuti kegiatan dan perkembangan Gendis setiap harinya. Capek tapi happy.

Aku selalu membebaskan Gendis mau jadi apa nantinya, tapi bapaknya sih maunya nanti jadi atlet. Hehe.. Tapi kalau kami sih balik lagi apapun yang Gendis pilih nanti dia maunya jadi apa, akan selalu aku support selama itu baik dan positif untuk perkembangan dan kehidupannya kedepan.

Apa pilihan favorit kamu untuk hal-hal berikut ini?

Camilan: Buah dan bubble tea

Destinasi untuk traveling: Pantai

Film sepanjang masa: Love, Rosie; Me Before You; Bohemian Rhapsody dan Harry Potter

Desainer: Banyak sekali, ada Sejauh Mata Memandang, Biyan, Edward Hutabarat dan Tangan

Fotografer: Davy Linggar

Apa yang ingin kamu lihat atau harapkan di industri modeling Indonesia yang akan datang?

Yang aku lihat sekarang makin beragam model Indonesia. Cantik itu bukan hanya perempuan berambut panjang dan berkulit putih, tapi lebih dari itu! Unik, berkarakter, hitam dan botak itu juga cantik. Di era sekarang semua makin terbuka akan hal itu dan itu bagus sekali buat permodelan Indonesia.

Harapan aku semoga industri modeling di Indonesia semakin berkembang, semakin percaya diri dan setiap orang di dalamnya lebih bisa menghargai tiap pekerja di industri ini.

Apa impian yang masih belum terwujud dan ingin kamu capai entah dalam dunia modeling atau bidang lainnya? Dan ada proyek apa lagi yang bisa kami lihat nantinya?

Aku pengen banget buka bisnis makanan! Doain ya akan segera terlaksana. Oiya aku juga pengen suatu saat punya brand sendiri. Kalau sekarang aku lagi sibuk JFFF, untuk bulan berikutnya juga aku akan mengikuti Fashion Week buat JWF dan IPMI.

Aktivitas Reti Ragil di dunia modelling dan kesehariannya bersama keluarga bisa disimak di akun Instagramnya @retiragil.