Serba-serbi Nutrisi Dari Kacamata Mochammad Rizal, Sport Nutritionist KONI Jawa Timur

Serba-serbi Nutrisi Dari Kacamata Mochammad Rizal, Sport Nutritionist KONI Jawa Timur

Bincang sehat seputar nutrisi dan profesi ahli gizi dengan Mochammad Rizal, Sport Nutritionist Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur.

Menu makanan yang sehat dan seimbang tak dipungkiri terkait erat dengan nutrisi atau gizi. Asupan makanan bergizi tentunya dibutuhkan sebagai materi bagi tubuh untuk dapat berfungsi secara maksimal dan kesehatan pun terjaga. Selain mungkin orang yang sedang berdiet memperhatikan pola makan, salah satu orang yang sangat peduli terhadap nutrisi tak lain adalah seorang nutrisionis alias ahli gizi.

Seorang ahli gizi profesional bisa ditemui biasanya di institusi kesehatan dan kebugaran seperti Rumah Sakit, klinik, fitness club, badan olahraga, ada pula yang memiliki bisnis online coaching ataupun katering makanan sehat. Salah satu nutrisionis yang kami wawancarai di sini yaitu Mochammad Rizal. Lelaki yang akrab disapa Rizal ini adalah seorang Sport Nutritionist di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur.

Selain aktif di KONI, ia pun merupakan salah seorang pengurus Indonesia Sport Nutritionist Association, dan juga Certified Sport Nutritionist di Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI). Lulusan Cum Laude S-1 Ilmu Gizi dan termasuk wisudawan berprestasi dari Universitas Airlangga Surabaya ini memiliki kegemaran mengedukasi, rutin menulis tentang tips diet, gizi dan kesehatan di akun Instagram pribadinya @rizalnutritionist dengan jumlah followers 50 ribu lebih. Aktivitasnya ini kerap membuatnya menjadi kontributor di beberapa majalah dan media, serta pembicara pada acara seminar, training, atau workshop. Bahkan dalam waktu dekat ia akan meluncurkan buku tentang diet dan penurunan berat badan.

Langsung saja simak obrolan kami dengan pria berkacamata ini, yang membahas berbagai hal mengenai nutrisi, makanan sehat seimbang dan tentu saja pengalamannya sebagai seorang nutrisionis.

Kenapa memilih menjadi ahli gizi dan apa yang menarik dari profesi ini?

Kebetulan saya sudah tertarik untuk menjadi ahli gizi sejak duduk di bangku SMP. Alasan waktu itu simple. Karena saya menderita (iya, bukan hanya mengalami tetapi benar-benar menderita) obesitas sejak kecil. Kebetulan ibu saya adalah seorang mantan atlet timnas hoki Sea Games, dan sekarang sebagai guru olahraga. Saya sudah dilibatkan dalam berbagai olahraga sejak kecil, tapi hasilnya nihil, tetap saja gemuk. Hingga penasaran, berarti ada faktor menarik lain yang berperan dalam penurunan berat badan, dan ternyata itu adalah pola makan. Setelah itu mencoba diet tetapi malah terlalu ekstrem hingga mengalami eating disorder, dan kondisi kesehatan malah makin memburuk, sakit-sakitan.

Sejak saat SMP itulah saya mulai tertarik untuk mendalami ilmu gizi, belajar melalui membaca berbagai artikel secara otodidak. Kemudian saya menyadari bahwa masalah ini bukanlah masalah saya pribadi seorang, tetapi juga masalah bagi banyak orang di Indonesia (1 dari 5 orang; Riskesdas 2018). Sejak saat itulah saya ingin membantu masyarakat untuk mengatasi masalah ini karena saya paham benar bagaimana menderitanya menjadi seorang yang obesitas. Menariknya, obesitas (dan masalah gizi lainnya) bukan hanya masalah per individu, tetapi juga merupakan masalah skala nasional yang dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia dalam berbagai bidang secara keseluruhan.

Apa sih bedanya ahli diet dan ahli gizi?

Kalau di luar negeri, ada yang namanya “dietitian” dan “nutritionist”. Kalau dietitian, itu mereka yang belajar di jalur akademis (kuliah, profesi resmi) sedangkan nutritionist tidak. Istilah ahli diet saya kurang paham, tetapi mungkin hampir mirip dengan dietisien. Berbeda dengan di luar, di Indonesia baik dietisien maupun nutrisionis (ahli gizi) sama-sama harus belajar di jalur akademis. Bedanya, dietisien ada pembelajaran lanjutan (profesi) setelah lulus sarjana (seperti dokter internship) sehingga mempunyai kewenangan yang lebih dibandingkan nutrisionis. Tetapi keduanya sama-sama diakui di Indonesia sebagai profesi resmi.

Dulu kita biasa mempelajari bahwa makanan yang seimbang itu adalah 4 sehat 5 sempurna. Apakah konsep tersebut masih relevan saat ini? Lalu yang bagaimana menu dengan gizi seimbang itu?

Menu gizi seimbang adalah hasil “revisi” dari slogan 4 sehat 5 sempurna. Jika di 4 sehat 5 sempurna terlalu “mendewakan” susu sebagai makanan yang sempurna ibarat tanpa konsumsi susu berarti belum sempurna, maka hal ini direvisi pada konsep menu gizi seimbang. Kandungan gizi pada susu terdapat juga pada bahan makanan yang lain. Selain itu, pada konsep menu gizi seimbang sudah mempertimbangkan lebih banyak faktor misalkan ajakan untuk mengembangkan kebiasaan baik misalkan sarapan pagi, mengurangi konsumsi makanan manis, asin, dan berlemak, cukup minum air, membaca label makanan kemasan, cuci tangan sebelum makan, dll, yang semuanya tidak ada di konsep 4 sehat 5 sempurna.

Bagaimana cara seorang ahli gizi dalam merancang perencanaan makanan untuk klien / pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda-beda?

Ahli gizi memiliki pedoman bernama Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Di dalam pedoman tersebut ada protokol-protokol yang wajib diisi sebelum memberikan saran dan merancang menu makanan untuk klien mulai dari asesmen, diagnosis, intervensi, dan monitoring evaluasi. Asesmen sendiri terdapat beberapa poin misalkan antropometri, biokimia, klinis fisik, dietary history, environment. Dari pedoman tersebut baru seorang ahli gizi dapat memberikan saran dan merancang menu yang tepat untuk klien sesuai dengan kondisi kesehatannya. PAGT adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipelajari oleh seorang ahli gizi.

Bagaimana Anda memotivasi klien / pasien yang sangat memerlukan bantuan tetapi dia kurang antusias atau tidak yakin? 

Terkadang bagian ini memang merupakan tantangan bagi seorang ahli gizi. Karena hal pertama yang perlu diubah adalah motivasi dari dalam diri klien. Ada teori predisposing, enabling, dan reinforcing faktor, salah satunya. Seorang ahli gizi juga diberikan sedikit ilmu tentang dasar-dasar psikologi yang tentu sangat bermanfaat. All in all, setiap individu memiliki triggering factor yang berbeda-beda agar termotivasi, sehingga cara meyakinkannya adalah dengan mencari faktor apa yang akan membuat mereka mau berubah. Maka perlu dilakukan penggalian lebih dalam pada saat sesi konsultasi terkait hal ini.

Bicara tentang diet, apakah berbagai jenis diet yang pernah ada atau yang ada saat ini memang bermanfaat / baik untuk tubuh? Bagaimana sebaiknya aturan berdiet yang benar?

Sebagian iya, sebagian tidak (netral), bahkan sebagiannya lagi berbahaya. Jika seseorang paham benar prinsip-prinsip dasar ilmu gizi, maka sebenarnya mereka tidak perlu lagi mengikuti jenis-jenis diet yang sedang tren yang ada saat ini. Prinsip-prinsip tersebut sudah teringkas dengan baik pada pedoman gizi seimbang yaitu: perbanyak konsumsi sayur dan buah, makan lauk pauk tinggi protein, batasi makanan asin, manis, dan berlemak, serta cukupi kebutuhan cairan. Kemudian untuk lebih detailnya, bisa berkonsultasi kepada ahli gizi agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi kesehatan dan preferensi masing-masing individu.

Saat seseorang alergi susu atau memiliki intoleransi laktosa, dari mana saja ia bisa mendapatkan sumber kalsium?

Kedelai seperti tempe dan tahu, ikan teri, atau ikan-ikan lainnya yang dapat dimakan beserta tulangnya, kacang-kacangan dan polong-polongan, serta beberapa sayuran hijau seperti brokoli dan bayam.

Benarkah makan banyak protein bisa membantu membangun massa otot? Protein seperti apa yang baik untuk itu dan adakah perbandingannya dengan jenis makanan lainnya?

Benar. Protein adalah “makanan bagi otot”, tetapi yang dimaksud dengan “banyak” juga harus terukur. Terlalu sedikit (meskipun sudah merasa mengonsumsi banyak) tidak akan cukup untuk pertumbuhan otot, namun terlalu banyak juga tidak akan menambah manfaat dalam percepatan pertumbuhan otot.

Protein terdiri dari 2 jenis yaitu nabati dan hewani. Protein nabati terdapat paling banyak pada kedelai seperti tahu dan tempe, meskipun pada kacang-kacangan dan biji-bijian juga ada. Sedangkan protein hewani yaitu ayam, telur, daging, ikan, susu dan olahannya. Protein hewani relatif lebih tinggi kualitasnya karena kandungan asam aminonya yang lengkap. Namun demikian protein nabati juga tidak kalah penting karena mengandung serat dan zat aktif seperti isoflavon pada kedelai yang juga bermanfaat bagi aspek kesehatan yang lainnya. Kombinasikan konsumsi kedua jenis protein di atas setiap hari untuk mendapatkan manfaatnya secara optimal.

Pertanyaan seputar masalah gizi apa yang sering Anda terima dari follower, klien / pasien dan apa solusi terbaik yang Anda anjurkan?

Dari follower, tentunya penurunan berat badan dan fatloss karena memang segmentasi dan konten-konten yang saya tulis adalah terkait dengan hal tersebut. Terkait klien, karena saya saat ini sedang berkarya di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur dan juga anggota divisi kemitraan dari Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), maka masalah gizi yang sering dibahas adalah gizi olahraga untuk atlet dan kebugaran untuk masyarakat umum.

Untuk fatloss, saran yang sering saya anjurkan adalah: jangan hanya berpatokan pada berat badan dalam mengukur keberhasilan proses. Pertimbangkan juga ukuran-ukuran yang lain, yang justru jauh lebih penting seperti komposisi tubuh, kadar lemak, peningkatan kebugaran akibat dari olahraga dan menjaga pola makan, perbaikan penampilan, dan juga hubungan yang baik dengan makanan dan diri sendiri.

Untuk gizi olahraga, saran yang diberikan berbeda-beda, spesifik tergantung sesuai jenis olahraganya. Misalkan olahraga yang mayoritas menggunakan aerobik seperti maraton, akan berbeda dengan olahraga yang mayoritas menggunakan anaerobik seperti angkat berat dan angkat besi, pun berbeda dengan olahraga yang kombinasinya seimbang antara aerobik dan anaerobik.

Bagaimana Anda melihat gaya hidup vegan dan vegetarian?

Asalkan penganut gaya hidup vegan tersebut memahami bagaimana penerapan gizi yang baik dan potensi risiko-risiko yang mungkin terjadi, saya rasa tidak masalah. Misalkan adalah potensi risiko kekurangan beberapa zat gizi seperti zat besi (karena zat besi pada bahan makanan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh), protein, vitamin B12, dll dan bagaimana cara penanganannya, maka tidaklah masalah. Dan sebaliknya, sangat tidak disarankan untuk menjadi vegan (atau jenis diet apapun) hanya karena ikut-ikutan atau karena sedang trendy.

Sebagai seorang nutrisionis, apakah Anda juga selalu memperhatikan asupan gizi dari makanan yang Anda konsumsi sehari-hari? Apa saja contohnya?

Tidak selalu, tapi mostly iya. Tidak selalu, misalkan saat sedang lebaran atau liburan. Hehe… Mostly, dalam kehidupan sehari-hari iya. Misalkan, jika dari pagi sampai siang saya sudah kebanyakan “jajan” karbohidrat dan lemak, maka pada malam hari saya menyeimbangkannya dengan konsumsi sayur dan protein. Atau ketika memilih makanan di luar misalkan jus, maka saya akan request jus buah tanpa susu. Makan camilan tidak kalap dengan cara mengambil segenggam lalu menutup toplesnya.

Mau pergi ke fast food? Terkadang saya akan cek dulu kandungan kalorinya, lalu memilih makanan yang kandungan gizinya paling cocok dengan kebutuhan saya saat itu. Saya juga selalu memesan penyetan (makanan khas Surabaya) berupa ayam bagian dada tanpa digoreng (karena sudah dibumbu ungkep jadi sudah matang), dengan permintaan khusus nasi porsi setengah dan ekstra lalapan. Terakhir, selalu mengusahakan untuk berolahraga minimal 3x seminggu.

Pesan atau saran kesehatan / makan sehat seperti apa yang bisa Anda bagikan untuk pembaca kami?  

1. Untuk general, ikuti prinsip pedoman gizi seimbang

2. Jangan lupa olahraga teratur, minimal 3x/minggu dengan durasi minimal 30 menit per sesi. Lakukan olahraga apa saja yang Anda gemari.

3. Tidur / istirahat cukup minimal 5-8 jam per hari

4. Manajemen stress

5. Untuk orang dewasa jangan lupa cek kesehatan seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat secara rutin 1 bulan sekali agar kondisi kesehatan selalu termonitor.

Jika Anda penasaran seperti apa aktivitas dan tips yang rutin dibagikan oleh Rizal, ikuti saja akun Instagramnya @rizalnutritionist, atau jika tertarik ingin bekerja sama, dapat menghubunginya melalui email: rizalnutritionist@ahligizi.id