Tanya Jawab Seputar Makanan Penangkal Virus Corona, Fact Atau Fake?

Tanya Jawab Seputar Makanan Penangkal Virus Corona, Fact Atau Fake?

Rangkuman pertanyaan perihal makanan penangkal virus corona yang dijawab oleh nutrisionis Tri Oktariani Putri, S.Gz, CSN dengan gamblang. Penting disimak!

Beredarnya banyak informasi seputar makanan yang bisa mencegah tubuh terinfeksi virus corona tentu saja membuat kita bereaksi. Ada yang langsung memburu makanan-makanan tersebut, ada yang skeptis dan ada pula yang mencari tahu kebenarannya lewat sumber-sumber informasi yang kredibel terlebih dahulu sebelum mempercayainya. Anda termasuk yang mana?

Kami mengumpulkan sejumlah informasi yang beredar di dunia maya mengenai berbagai makanan yang dipercaya mampu mencegah bahkan mengobati penyakit akibat virus corona. Agar tak jadi korban hoax, yuk kita ulas tuntas satu-persatu bersama ahli gizi Tri Oktariani Putri, S.Gz, CSN atau yang akrab disapa Puput.

Dietician & Clinical Nutritionist di RSUD Kepahiang, Bengkulu ini juga merupakan APKI Certified Sport Nutrition Advisor dan aktif pula sebagai co-founder Nutrition for Sport & Wellness (NSW). Ia menjawab semua pertanyaan di bawah ini dengan sangat komprehensif dan pastinya bermanfaat untuk bekal kita menangkis hoax dan menyaring peredaran berita-berita terkait makanan penangkal virus corona.

Tri Oktariani Putri, S.Gz, CSN – Dietician & Clinical Nutritionist RSUD Kepahiang, Bengkulu

Kita tahu tumbuhan herbal dan jamu-jamuan bermanfaat untuk kesehatan tubuh, tapi apakah benar mengonsumsinya juga bisa mencegah terinfeksi virus corona? (Yang sedang ramai disebut-sebut misalnya bawang putih, jahe, lada, teh chamomile, minyak oregano, minyak wijen, minyak kelapa dll).

Sampai saat ini belum ada uji klinis yang membuktikan bahwa berbagai jenis rempah, bawang, teh, ramuan herbal dll yang disebutkan di contoh dapat mencegah / mengobati virus corona. Bawang putih, salah satu yang paling populer digadang-gadang dapat mencegah virus corona karena kandungan zat antimikrobanya, bahkan WHO belum membenarkan hal tersebut.

Tumbuhan-tumbuhan herbal umumnya memberikan dampak baik bagi kesehatan karena kandungan antioksidan alami yang ada di dalamnya. Tiap-tiap jenis tumbuhan memiliki kandungan antioksidan yang berbeda, contohnya: kurkumin yang terdapat pada kunyit dan temulawak, gingerol pada jahe, dll.

Sifat umum antioksidan ini adalah menghambat reaksi oksidasi dan mencegah kerusakan sel dengan cara mengikat radikal bebas sehingga dapat meningkatkan imunitas dan mencegah berbagai penyakit degeneratif. Namun, hal ini belum tentu dapat berlaku bagi semua jenis infeksi atau penyakit.

Kandungan antioksidan dari tumbuh-tumbuhan tersebut “mungkin” bisa sedikit meringankan gejala infeksi virus corona seperti batuk, flu dan sesak nafas. Namun untuk efek “mengobati”? Jawabannya belum tentu. Perlu pengkajian ilmiah yang mendetail lagi untuk membuktikan hal tersebut.

Benarkah mengonsumsi vitamin C dan menghindari makanan pedas bisa mencegah infeksi virus corona?

Vitamin C adalah salah satu sumber antioksidan yang kuat dan berkontribusi cukup baik bagi imunitas tubuh. Dan ada apa dengan makanan pedas? Mengapa harus dihindari?

Cabai adalah salah satu sumber vitamin C yang sangat baik, bahkan kandungan vitamin C nya lebih tinggi dibandingkan buah jeruk. Dalam 50 gram cabai merah segar mengandung sekitar 42 mg vitamin C, sementara kebutuhan vitamin C orang dewasa berkisar antara 75-85 mg/hari.

Untuk mencegah infeksi virus corona, kita tidak hanya fokus dengan memiliki imunitas yang baik, namun perlu didukung juga dengan menjaga kebersihan tubuh, menjaga asupan makanan dengan baik dan menghindari berbagi sumber yang mungkin dapat menularkan virus.

Dengan memodifikasi diet serta menghindari minuman dingin, milkshake, atau es krim bisa mencegah terinfeksi virus corona. Apakah benar?

Memodifikasi diet dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang tentu akan menjaga kesehatan dan imunitas tubuh. Sementara untuk minuman, yang harus diperhatikan adalah kehigienisan air yang diminum dan pastikan air benar-benar matang (mencapai titik didih 100 derajat Celcius).

Es batu / minuman dingin yang dijual di pasaran terkadang tidak bisa kita jamin kehigienisannya, baik dari sumber airnya, tingkat kematangannya hingga cara penyimpanannya. Akan lebih baik memang untuk berhati-hati dan membatasi membeli jajanan di luar rumah untuk mengantisipasi penularan virus dari droplet yang secara tidak sengaja menempel pada makanan / minuman yang dijual.

Salah satu pakar holistik dari luar pernah mengatakan bahwa menggunakan ganggang merah (red algae) dapat mencegah dan berpotensi mengobati virus corona. Benarkah?

Ganggang merah sudah agak lama diketahui memiliki kandungan mannose-binding lectins sebagai antivirus dan antikanker. Tahun 2006 Amerika Serikat telah mempatenkan ekstrak ganggang merah untuk mengatasi virus ebola, SARS, hepatitis C dan H5N1.

Virus corona diketahui 96% gennya mirip dengan virus SARS. Tidak menutup kemungkinan bahwa potensi pengobatannya pun mirip. Namun, lagi-lagi perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu dan hingga saat ini belum ada penelitiannya ganggang merah dapat mencegah corona.

Bisakah makanan yang dijual di toko swalayan / supermarket terinfeksi virus Corona? Dengar-dengar, virus ini bisa bertahan di permukaan makanan selama 3 hari. Lalu bagaimana dengan makanan impor?

Seperti yang kita ketahui dari pemberitaan, virus corona itu ditularkan melalui droplet, yaitu percikan air liur saat batuk atau bersin dari orang yang positif terinfeksi. Droplet ini bisa menempel di mana saja.

Untuk makanan yang dijual di swalayan / supermarket baik makanan lokal maupun impor, Anda perlu waspada dan menaruh perhatian lebih saat akan membeli makanan yang dibiarkan terbuka. Kita tidak pernah tahu siapa saja orang yang menghampiri makanan tersebut, apakah ia meninggalkan droplet atau tidak, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, harus tetap berhati-hati dan selektif. Batasi / hindari juga mengonsumsi makanan mentah. Sebagian besar virus akan mati dengan suhu tinggi saat proses pemasakan.

Menurut sumber yang saya baca, sampai saat ini belum ada data yang jelas berapa lama virus dari droplet tersebut dapat bertahan. Dari website WHO, dikatakan bahwa virus dapat bertahan beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung bagaimana kondisi tempat ia menempel, berapa suhunya serta tingkat kelembapannya.

Dengan banyaknya informasi simpang siur mengenai asupan yang dapat mencegah penyakit akibat virus corona, bukan tidak mungkin akan bermunculan produsen yang mengklaim bahwa produknya dapat menangkal corona. Bagaimana agar masyarakat tidak mudah terbius dengan info-info yang beredar dan belum diketahui kebenarannya itu?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah “jangan ikut-ikutan” karena sesuatu yang hype belum tentu benar. Cari tahu dulu info validnya, baca dulu dari sumber-sumber terpercaya seperti edaran dari WHO atau Kemenkes.

Dengan berbagai klaim yang dipromosikannya, coba tanyakan adakah bukti ilmiahnya? Adakah uji praklinis dan klinisnya? Be a smart buyer.

Seperti halnya tren masker yang menjadi langka, harga melonjak tinggi, rempah-rempah pun nampaknya akan bernasib sama. Daripada menghabiskan banyak uang untuk membeli produk tertentu yang tidak jelas, mending uangnya dipakai untuk membeli beraneka ragam bahan makanan segar yang sudah pasti memiliki berbagai kandungan zat gizi yang bisa memenuhi kebutuhan Anda.

Menurut pandangan Anda sebagai nutrisionis, makanan apa saja yang perlu kita konsumsi untuk menjaga / memperkuat imunitas dan bagaimana kita harus mengubah pola makan untuk setidaknya lebih sehat dan tidak mudah terkena penyakit?

Zat gizi adalah sesuatu yang kompleks, saling terkait satu dengan lainnya dan perlu diingat bahwa tidak ada satu jenis makanan pun yang memiliki kandungan gizi sempurna. Oleh sebab itu, konsumsilah makanan secara beragam dan seimbang.

Ingat, seimbang ya..tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Jika semua kebutuhan zat gizi tubuh sudah terpenuhi, baik zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) maka kesehatan tubuh akan terjamin, tidak perlu mengkhususkan untuk mengonsumsi kelompok makanan tertentu sebagai pendukung imunitas.

Untuk mengetahui jumlah kebutuhan gizi harianmu, bisa datang berkonsultasi dengan nutrisionis atau melihat panduan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Selain pola makan, 2 poin yang harus diperhatikan juga adalah pola aktivitas dan kebersihan. Terapkan pola hidup aktif dengan aktivitas fisik teratur dan berolahraga rutin serta jagalah kebersihan tubuh dan lingkungan sekitar.

Wah, setuju sekali dengan uraian narasumber kita di atas. Bagaimana, sudah mendapat pencerahan tentang makanan dan kaitannya dengan virus corona? Atau masih ingin tanya-tanya seputar gizi dan pola makan sehat? Langsung saja ikuti akun Instagram Puput di @putritionist.